Menuju Puncak Rinjani Itu Tidak Mudah

Hujan telah mengguyur tempat Kami berkemah  sekitar pukul sembilan malam. Rupanya setelah lewat 12 jam dari waktu turun pertama, hujan belum berhenti. Hal ini membuat Kami yang sebagian besar adalah pendaki pemula merasa was-was takut kalau hujan terus berlanjut sampai satu hari, sehingga kami tidak jadi naik ke Puncak Rinjani. Saya lihat ke arah luar lewat jendela tenda, rupanya semua pendaki lebih memilih aktivitas didalam tenda untuk tidur-tidur sembari menghimpun energi. Namun ada beberapa pendaki mancanegara yang melakukan pendakian ke Puncak Rinjani dengan menggunakan mantel untuk melindungi badan dari hujan. Saya merupakan bagian dari sebagian besar pendaki yang memilih untuk tetap tinggal didalam tenda menunggu hujan reda. 

Setelah kami menunggu sekitar dua  jam, hujan mulai mengurangi intensitas. Hal ini memberi kesempatan kami untuk mempersiapkan pendakian ke puncak. Pertama-tama teman kami yang pandai memasak menyiapkan makanan sebagai makan pagi dan makan siang. Pada waktu itu saya memiliki peran untuk mengambil air yang berada di mata air  ke arah kiri dari perkemahan. Rupanya sudah banyak pendaki yang mengantri mengambil air, untungnya antrian nya tidak terlalu panjang. Setelah menunggu sekitar 10 menit, saya mendapat giliran untuk menadah air menggunakan botol bekas air mineral. Pada beberapa sudut mata air di buat seperti memancur dari atas sehingga memudahkan orang yang mau mengambil air. Setelah air memenuhi botol, saya naik menuju perkemahan untuk segera digunakan untuk berbagai macam kebutuhan.

Sekitar pukul dua belas siang, waktu itu kami sudah makan dan hujan sudah tidak jatuh lagi, baru kami yakin bahwa kali ini kami mampu ke puncak. Kami pertama-tama bersama dengan pendaki lain memulai dengan membentuk lingkaran  berdoa bersama agar diberi keselamatan ketika ke puncak. Setelah doa selesai, baru kami mulai melangkahkan kaki dengan perasaan optimis, kalau apapun rintangannya akan kami lewati. Jalan yang dilalui pada tahap awal-awal berjalan terasa berat, karena sudut miring dari medan yang dilalui sekitar 60 derajat. Kami harus selalu berhati-hati agar tidak terpeleset, pasalnya medan yang kami lalui berupa pasir yang mudah longsor.

Saya mendapat saran dari orang yang sudah berkali-kali naik untuk tidak tergesa-gesa, karena justru jika naik ke puncak dengan kondisi tergesa-gesa malah akan memperlemah fisik pendaki. Sarannya adalah untuk selalu menikmati tiap langkah agar tidak cepat capek. Karena di jalan banyak sekali pemandangan yang bisa di lihat yang kalau di tempat biasanya tidak dapat dilihat. Ketika menuju ke puncak dianjurkan untuk membawa bekal makanan, untuk tetap menjaga keseimbangan energi.

Total waktu yang dibutuhkan dalam perjalanan dari tempat perkemahan di Plawangan sampai dengan puncak sekitar empat jam. Selama empat jam tersebut medan yang berat adalah ketika berada di lautan pasir sebelum puncak. Begitu berat karena medan yang kami daki kelerangan nya cukup curam sekitar 60 derajat, dan pasir yang kami injak amblas begitu dalam, sehingga dibutuhkan energi besar untuk melangkah.















Komentar