Sabtu, 23 April 2016

Bukit Korea Lombok



Pada hari Sabtu pagi Kami yang tergabung dalam rombongan gowes di kantor, mengadakan tour ke Bukit Korea. Letaknya dekat dengan Kota Mataram sekitar lima kilo meter kearah utara. Bukit ini tidak terlalu tinggi, untuk Kami saja yang masih pemula mudah untuk mencapai kesini. Ada beberapa tanjakan yang naik tajam namun dengan menyetel rantai pada kecepatan rendah tidaklah menjadi masalah. Tujuan utama kita kesini adalah melihat pemandangan Kota Mataram dari atas bukit.

Bergaya seakan terbang dari ketinggian untuk menuju ke Kota Mataram. 

Kita adalah anggota gowes yang sadar kamera sehingga disetiap moment tidak lupa untuk berfoto

Rabu, 16 Maret 2016

Hari Bhakti Rimbawan

Hari senin Tanggal 14 Maret mendapat kabar dari Kepala Tata Usaha lewat Whats app grup yang intinya pada tanggal 16 Maret semua pegawai diwajibkan untuk mengikuti upacara dalam rangka hari Bhakti Rimbawan di depan kantor DAS. Sebagai orang yang bekerja di birokrasi namun yang berhubungan dengan lapangan, Saya sudah jarang ikut kegiatan upacara. Jadi momen hari Bhakti Rimbawan sebagai waktu yang tepat untuk mengenang kembali masa-masa MI sampai SMA, dimana dipastikan setiap minggu wajib upacara, kecuali jika ada halangan-halangan tertentu seperti hujan besar, libur dan lain sebagainya.

Sekitar jam delapan pagi ini, rimbawan rimbawati yang bertugas di Provinsi Nusa Tenggara Barat telah memulai acara. Tapi rasa-rasanya Hari Bhakti Rimbawan sudah berbeda dari tahun-tahun yang lalu. Pegawai di bidang kehutanan tidak dapat lagi merasakan kemeriahan Hari Bhakti Rimbawan. Biasanya dulu ada acara seperti pertandingan olahraga antar UPT Kementerian Kehutanan, jalan santai, lomba anak, dan lain sebagainya. Akan tetapi setelah penggabungan dua kementerian yakni Kementerian Kehutanan dan Kementerian Lingkungan Hidup, kegiatan hari Bhakti Rimbawan sudah tidak ada lagi.

Saya mempersepsikan Hari Bhakti Rimbawa sebagai ajang silaturahim antar pegawai di bidang kehutanan, sehingga suasana menjadi lebih bersifat kekeluargaan. Dari yang tidak kenal sebelumnya menjadi kenal atau lebih mengakrabkan pegawai yang sudah kenal. Saya pertama masuk dan mengenal teman-teman UPT yang lain karena Hari Bhakti Rimbawan. Dimana ketika mengikuti pertandingan olahraga, secara tidak sengaja Saya dapat menegur dan menyapa dengan pegawai dari instansi yang lain . Dan sekarang, saya rasanya melihat wajah-wajah baru namun tidak mengenal, apa karena saya yang kurang gaul ya.......?????????

Sabtu, 12 Maret 2016

5 Jam Naik Sepeda di Senggigi, Lombok

Saya teringat sebuah acara televisi yang muncul di Trans TV setiap hari Sabtu dan Minggu namanya My Trip My Adventure. Acara tersebut meng ekspose keindahan alam Nusantara terutama yang masih alami. Acara tersebut Saya lihat terbilang sukses, karena memunculkan efek domino di masyarakat. Banyak kaos yang kita temui di jalan bertuliskan acara tersebut sudah menjadi bukti bahwa jumlah penonton begitu banyak. Selain itu acara tersebut menurut Saya menimbulkan hasrat bagi kaum muda untuk melakukan travelling ke berbagai pelosok tanah air, hal ini terlihat dari banyaknya anak muda yang memposting lewat media sosial tentang tempat-tempat yang terbilang masih baru.

 Saya dan kawan-kawan ceritanya tidak kalah dengan acara di TV tersebut. Pada hari libur tepatnya tanggal 6 Maret 2016 melakukan travelling yang tidak biasanya. Mengapa tidak biasa yaitu karena kami-kami ini sebenarnya sudah cukup berumur, ya walaupun belum tua, tetapi fisik sudah berkurang kekuatannya. Yang kedua sebagian dari kami sudah memiliki keluarga, sehingga harus rela mencuri waktu demi memuaskan hasrat pribadi yang belum tersalurkan sejak muda. Tidak ada salahnya untuk refreshing sekaligus ber olahraga di hari libur. Sambil memacu pedal kami bisa melihat pemandangan yang indah, yaitu dengan gowes alias bersepeda.

Rute yang kami lalui merupakan jalur pariwisata. Mengapa demikian, karena biasanya turis-turis baik lokal maupun mancanegara yang sedang berlibur di Lombok melalui jalan tersebut, yaitu akses menuju Gili Trawangan, Senggigi dan Senaru. Pokoknya kami tidak risau dengan kualitas jalan, dijamin mulus seperti sutera mulai dari Pemenang di Kabupaten Lombok Utara hingga Batu Layar di Kabupaten Lombok Utara. Jika diukur dengan sepido meter sekitar 50 kilo. Jarak yang lumayan untuk olah raga sekaligus refresshing seharian. 

Pertama-tama kami memulai dengan meminta bantuan seorang teman kantor untuk mengantar dari office base di daerah Mataram membawa Kami ke Kecamatan Pemenang di Kabupaten Lombok Utara. Untuk itu, Kami melakukan persiapan sejak hari Jumat dengan mengecek kondisi mobil yang akan digunakan untuk mengantar ke tempat start. Untuk ke posisi start kami menggunakan kendaraan jenis pick up agar bisa membawa sepeda. Untuk berangkatnya, Kami melewati jalur Mataram-Pusuk yang konon katanya lebih dekat. Jalan tersebut merupakan jalan terabas untuk cepat sampai ke Lombok Utara. 

Kami berjumlah delapan sepeda, rencana awal sekitar sembilan sepeda, jadi ada satu sepeda dan satu joki yang tidak jadi ikut. Lantaran hal tersebut, kemeriahan berkurang sedikit. Tetapi tidak menjadikan suasana berubah menjadi layu, kami tetap saja menikmati suasana jalan yang kala itu tidak terlalu ramai namun tidak pula sepi. Sesekali, kami berpapasan dengan grup sepeda yang lain yang juga sedang melakukan touring. Jika sudah berpapasan dengan pengendara sepeda lain, saya pikir rasa solidaritas diantara pengendara sepeda meningkat. Maklumlah, sekarang ini sepeda bukan lagi alat transportasi mayoritas seperti beberapa tahun silam. Populasinya sudah terancam oleh alat transportasi bermesin. Sebagai minoritas, sepeda kini merupakan alat transportasi yang ekslusif, karena tidak semua orang punya. Kalau dulu orang punya banyak sepeda namun belum tentu punya motor, namun sekarang orang sudah pasti punya motor namun belum tentu punya sepeda. Ya memang sekarang semua serba terbalik, itulah hidup selalu ada perubahan.

Suara rantai menjadi sering terdengar ketika kami memasuki tanjakan di dekat dermaga kapal. Tanjakan di sini termasuk berat, karena lumayan tinggi. Beberapa dari kami harus menyerah turun dari sepeda karena walaupun kecepatan rantainya di stel paling ringan ternyata masih saja tidak kuat untuk naik. Napas menjadi lebih dalam, karena kami membutuhkan banyak energi untuk mengayuh sepeda menuju tempat yang lebih tinggi. Kami pun harus lebih berhati-hati ketika menanjak, biasanya untuk mengimbangi kekuatan menanjak, kami harus oleng kiri dan kanan agar kecepatan konstan. Apalagi banyak kendaraan bermotor yang naik juga harus selalu menjaga kecepatan agar mesin tidak mati, sehingga sudah dipastikan bahwa kecepatannya juga tinggi, inilah yang membuat kami lebih berhati-hati. Ini tidak menjadikan kami menyerah begitu saja. Kami yakin setelah menanjak pasti ada turunan yang begitu nikmat.

Untuk memulihkan kondisi tubuh sehabis menanjak, Kami biasanya istirahat sejenak di atas bukit. Itulah kegunaan dari kita menanjak tinggi, rupanya setelah capek, kita wajib untuk istirahat sejenak dan apalagi ketika istirahat kita bisa memandangi pemandangan pantai Senggigi yang indah. Sungguh, hal ini akan membuat badan cepat pulih ke kondisi normal. Istirahat diatas bukit juga menjadi alasan bahwa kita harus membuka bekal yang sudah dibawa agar tidak terlihat mubazir. 

Dan kenikmatan terakhir dari kita naik sepeda di Daerah Senggigi adalah ketika turun dari atas bukit. Kita tidak perlu mengayuh sepeda, karena sudah otomatis kita akan meluncur dengan kencang ke bawah. Energi tersimpan untuk di jalan yang datar dan menanjak. Desiran angin ketika menurun menjadi obat penyejuk ketika keringat banyak keluar sewaktu menanjak. Kecepatan sewaktu menurut dapat maksimal, tapi biasanya kami diam saja memikirkan mengerem jikalau ada penghalang didepan sepeda.

Akhirnya hari minggu dapat terisi dengan kegiatan positif, yaitu olah raga sekaligus refresing. Rencananya kami akan menjajal medan yang lebih menantang seperti Senaru, Sembalum, dan  ke daerah Sekotong.





Kru sepeda litbang kehutanan BPTHHBK Mataram





Kru sepeda litbang kehutanan BPTHHBK Mataram

Kru naik sepeda litbang kehutanan bpthhbk mataram

Sepeda yang sedang parkir diatas bukit ketika istirahat



Tanjakan begitu tinggi, sehingga tidak kuat mengayuh sepeda dan harus turun

Para anggota gowes sedang mencoba jalan yang naik. Sepeda di stel gigi terendah

Salah seorang kru yang tidak kuat naik tanjakan, sehingga harus menuntun sepeda

Jumat, 04 Maret 2016

Menuju Puncak Itu Tidak Mudah

Hujan telah mengguyur tempat Kami berkemah  sekitar pukul sembilan malam. Rupanya setelah lewat 12 jam dari waktu turun pertama, hujan belum berhenti. Hal ini membuat Kami yang sebagian besar adalah pendaki pemula merasa was-was takut kalau hujan terus berlanjut sampai satu hari, sehingga kami tidak jadi naik ke Puncak Rinjani. Saya lihat ke arah luar lewat jendela tenda, rupanya semua pendaki lebih memilih aktivitas didalam tenda untuk tidur-tidur sembari menghimpun energi. Namun ada beberapa pendaki mancanegara yang melakukan pendakian ke Puncak Rinjani dengan menggunakan mantel untuk melindungi badan dari hujan. Saya merupakan bagian dari sebagian besar pendaki yang memilih untuk tetap tinggal didalam tenda menunggu hujan reda. 

Setelah kami menunggu sekitar dua  jam, hujan mulai mengurangi intensitas. Hal ini memberi kesempatan kami untuk mempersiapkan pendakian ke puncak. Pertama-tama teman kami yang pandai memasak menyiapkan makanan sebagai makan pagi dan makan siang. Pada waktu itu saya memiliki peran untuk mengambil air yang berada di mata air  ke arah kiri dari perkemahan. Rupanya sudah banyak pendaki yang mengantri mengambil air, untungnya antrian nya tidak terlalu panjang. Setelah menunggu sekitar 10 menit, saya mendapat giliran untuk menadah air menggunakan botol bekas air mineral. Pada beberapa sudut mata air di buat seperti memancur dari atas sehingga memudahkan orang yang mau mengambil air. Setelah air memenuhi botol, saya naik menuju perkemahan untuk segera digunakan untuk berbagai macam kebutuhan.

Sekitar pukul dua belas siang, waktu itu kami sudah makan dan hujan sudah tidak jatuh lagi, baru kami yakin bahwa kali ini kami mampu ke puncak. Kami pertama-tama bersama dengan pendaki lain memulai dengan membentuk lingkaran  berdoa bersama agar diberi keselamatan ketika ke puncak. Setelah doa selesai, baru kami mulai melangkahkan kaki dengan perasaan optimis, kalau apapun rintangannya akan kami lewati. Jalan yang dilalui pada tahap awal-awal berjalan terasa berat, karena sudut miring dari medan yang dilalui sekitar 60 derajat. Kami harus selalu berhati-hati agar tidak terpeleset, pasalnya medan yang kami lalui berupa pasir yang mudah longsor.

Saya mendapat saran dari orang yang sudah berkali-kali naik untuk tidak tergesa-gesa, karena justru jika naik ke puncak dengan kondisi tergesa-gesa malah akan memperlemah fisik pendaki. Sarannya adalah untuk selalu menikmati tiap langkah agar tidak cepat capek. Karena di jalan banyak sekali pemandangan yang bisa di lihat yang kalau di tempat biasanya tidak dapat dilihat. Ketika menuju ke puncak dianjurkan untuk membawa bekal makanan, untuk tetap menjaga keseimbangan energi.

Total waktu yang dibutuhkan dalam perjalanan dari tempat perkemahan di Plawangan sampai dengan puncak sekitar empat jam. Selama empat jam tersebut medan yang berat adalah ketika berada di lautan pasir sebelum puncak. Begitu berat karena medan yang kami daki kelerangan nya cukup curam sekitar 60 derajat, dan pasir yang kami injak amblas begitu dalam, sehingga dibutuhkan energi besar untuk melangkah.















Jumat, 05 Februari 2016

Mendaki Gunung Rinjani "Kebersamaan dalam melangkah"

Waktu sudah siang, matahari sudah cukup memberi sinar hangat ke bumi. Aktivitas pendakian sudah berjalan  dengan hilir mudik pendaki dan porter yang berjalan lewat disamping tenda Kami. Embun pagi masih menempel disela-sela tenda, hijau rerumputan terlihat basah karena hujan semalaman, dan burung-burung yang hinggap di pohon cemara. Awan terkadang menutupi pandangan kami ke arah puncak Rinjani, tanah masih becek, sedangkan sungai di samping tenda masih mengeluarkan suara yang keras.

Itulah suasana hari pertama kami melakukan pendakian ke Gunung Rinjani. Keadaannya berbeda dengan yang kami lihat di tempat tinggal kami sehari-hari. Jarak yang jauh dari tempat tinggal menyatukan kami sebagai tim pendaki yang pada waktu itu berjumlah lima orang. Kami berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Ada yang baru lulus dari kuliah, ada yang baru saja berhenti bekerja, ada petani, dan ada juga yang berprofesi sebagai pegawai negeri sipil (PNS). Kami tentu saja tidak melihat siapa latar belakang kami, karena kami memiliki tujuan sama, yaitu untuk mendaki Gunung Rinjani. Kami sadar bahwa tidak akan mudah untuk mendaki keatas gunung yang memiliki tinggi puncak nomor enam di Indonesia setelah (1) Puncak Jaya  4.884 meter, (2), Puncak Mandala 4.760 meter, (3), Puncak Trikora 4.750 meter, (4), Ngga Pilimsit 4.717 meter, (5), Gunung Kerinci 3.805 meter, (6) Gunung Rinjani 3.726 meter. Sungguh, kami harus dapat mengatur agar agar tim kami selalu kompak dalam mendaki.

Setiap hela nafas yang kami lakukan harus mampu mengisi paru-paru kami, sehingga kami mampu bekerja menghimpun tenaga dan melakukan kegiatan sewajarnya. Ketinggian tempat yang kami lewati hanya memiliki sedikit oksigen jika dibandingkan dengan tempat yang berada pada ketinggian normal. Kadang kami merasa kekurangan oksigen. Hal ini ditandai dengan kami bernafas lebih cepat dan kami merasa cepat lelah. Kami mendapat saran dari orang yang sudah berpengalaman agar jangan terlalu memaksakan pendakian dengan tenaga yang dimiliki. Bisa jadi tantangan didepan lebih besar dari yang dihadapi sekarang ini. Kami harus pandai mengatur irama pengeluaran energi, agar tidak boros keluar percuma. Caranya cukup sederhana yaitu kami harus istirahat jika merasa capek, dan berjalan lagi jika kondisi sudah normal. Mendaki bukan ajang untuk cepat-cepat sampai ke puncak, tetapi tapak demi tapak yang kami lalui harus memiliki makna. Apalah artinya buru-buru jika nantinya kami akhirnya K.O dengan kondisi tubuh yang tidak O.K karena kelelahan.

Rombongan membawa bekal seadanya, yang terpenting adalah kami membawa bahan makanan  untuk tujuh hari pendakian. Kami -masak makanan tidak muluk-muluk. Kami memiliki rumus berapa besar bahan makanan yang harus kami bawa ketika mendaki, yaitu membawa bekal melebihi dari hari yang sudah kami rencanakan. Rencana kami melakukan pendakian untuk lima hari ditambah 2 hari jika nanti dalam proses pendakian terjadi keadaan yang tidak diinginkan misalnya tersesat atau ada orang yang meminta bantuan bekal, jadi makanan yang kami bawa harus cukup untuk tujuh hari.
Tidak perlu memasak yang berlebihan, masak cukup untuk mengganti tenaga yang hilang karena mendaki. Tidak usah memikirkan kebersihan seperti di hotel bintang lima, tidak cukup meneliti berapa kandungan vitamin seperti ketika di rumah sakit, tidak perlu kelengkapan bahan makanan seperti di Master Cheef. Hanya seadanya saja, prinsip memasak yang  masih kami pegang yaitu masih masih dalam kaidah kesehatan. Sepertinya hanya ada dua prinsip yang harus Kami pertahankan yaitu  bersih dan bergizi. 

Salah seorang dari rombongan memulai memasak dengan membuka tas keril untuk mengambil wortel, beras, dan mie instan. Dan hal ini berarti mengajak teman lain untuk berbuat hal yang sama. Masing-masing dari kami memiliki bagian tugas sendiri-sendiri. Ada yang menyiapkan kompor, ada yang mencari air ke sungai yang berada di bawah tenda, ada juga yang menyiapkan kompor. Seolah kami adalah cheff yang handal dengan kemampuan yang berbeda-beda. Saya rasa semua anggota rombongan adalah orang yang hebat, karena mereka mampu bekerjasama menyiapkan makanan dalam keadaan minimalis. Tidak ada keluh kesah yang keluar dari masing-masing anggota. Semua sudah memiliki rasa saling pengertian dan tanggung jawab. Kami saling memiliki rasa untuk saling menjaga hati, yaitu dengan menghormati kepada sesama anggota pendakian. Tanpa pengertian tersebut mustahil, pendakian yang berjalan beberapa hari kedepan akan kami hadapi dengan berbagai kesulitan. 

Bukan rasa enak atau tidaknya yang kami makan, tapi kebersamaan agar semua tujuan dalam pendakian dapat tercapai. Makan adalah alat untuk memberi tenaga agar tubuh memiliki energi. Dari pendakian kami juga belajar bagaimana menghargai nikmat yang besar dari Tuhan. Bagaimana tidak, kadang ketika berada di tempat normal, kami tidak menghargai makanan dengan mengambil banyak lalu ketika sudah kenyang kadang makanan yang tersisa dibuang percuma. Ada benarnya jika mengunjungi suatu daerah yang baru akan memberi pengalaman kepada kita. Berdiam diri ditempat asal bukanlah tidak baik, akan tetapi lebih baik lagi jika kita mau mengunjungi daerah yang berada di luar sana agar pengalaman kita bertambah, yang jelas salah satunya adalah dengan melakukan pendakian. Pendakian bukan hanya membawa diri sendiri akan tetapi kita harus menyesuaikan dengan lingkungan disekitar yang terdiri dari banyak pendaki, masyarakat sekitar tempat pendakian, dan juga yang tidak boleh dilupakan adalah alam yang kita lewati juga harus dihargai. Tempat makan yang kami bawa bukanlah piring yang bagus, tapi piring dari plastik yang ringan. Walaupun kami jarang mencuci ketika mendaki, tapi kami selalu jaga agar barang yang berharga tersebut tidak hilang. Betapa berharganya barang kecil yang hanya berbahan plastik, yang kami menggunakannya untuk berbagai keperluan makan.

Mata air sepanjang jalur pendakian menjadi sumber kekuatan kami. Selama kaki melangkah naik ke arah puncak, hati tidak merasa gundah kalau sewaktu-waktu air yang kami bawa habis. Rinjani dikenal sebagai gunung yang memiliki banyak mata air, wajar saja, karena diatas gunung terdapat Danau Segara anak yang cukup luas. Dari sana Gunung menampung dari air hujan, lalu air tersebut mengalir melalui sungai-sungai atau melalui celah-celah yang tidak terlihat kasat mata manusia sehingga menjadi berbagai mata air. Air di Taman Nasional Gunung Rinjani akan tetap ada selama kita semua masih peduli dengan lingkungan kita. Bukan hal yang mustahil jika sewaktu-waktu mata air tersebut hilang dan tidak nampak lagi. Saat itulah bencana akan menghampiri terutama bagi masyarakat yang menggantungkan mata airnya selama ini berasal dari Gunung Rinjani. 


Lihat foto juga foto persiapan naik. Klik disini









Jumat, 01 Januari 2016

Persiapan Menuju Puncak Gunung Rinjani di Taman Nasional Gunung Rinjani

Hari pertama (Persiapan Perbekalan)

Ini merupakan perjalanan yang tidak di duga sebelumnya, pasalnya teman memberi tahu naik Gunung dua hari sebelum hari keberangkatan atau tepatnya hari Jumat. Tiba-tiba saja ketika saya sedang berjalan di salah satu ruang di kantor teman memanggil dan berkata bahwa Hari minggu akan ada acara naik gunung. Setelah mendapat ajakan dari teman, saya menyetujui dan segera mencari cara untuk mendapat perlengkapan. Waktu itu masih jam kantor sekitar pukul dua siang, saya masih mengerjakan beberapa pekerjaan yang harus saya selesaikan. Ketika jam pulang kantor, teman mengajak untuk mencari perlengkatan mendaki dan harus pergi ke kota. Sekitar jam setengah 5 sore, dengan menggunakan sepeda motor, saya menuju ke  kota. Hujan waktu itu turun dengan intensitas rendah. Saya harus memakai mantel agar terhindar dari air hujan.

Saya menuju toko Eiger untuk mencari sleeping bag, ternyata, sleeping bag sudah habis terjual. Selanjutnya Saya menuju ke toko kedua. Toko kedua ini tidak terlalu terkenal namanya, Saya tidak ingat namanya. Ternyata, di toko yang kedua ini saya mendapat sleeping bag. Harganya tidak terlalu mahal sekitar Rp 160.000,-. Ada yang lebih mahal tapi saya berpikir bahwa, kenapa beli yang mahal toh saya makainya tidak terus menerus, paling hanya beberapa kali saja. Ya akhirnya Saya setuju dan langsung membayar dengan uang tunai.

Setelah itu, Saya berpikir untuk mencari kaos kaki. Kaos kaki punya saya kurang terlalu tebal jadi khawatir nanti gampang tertembus suhu udara pegunungan yang terkenal dingin. Saya membayar uang dengan satu lembar lima puluh ribu rupiah, setelah itu mba kasir mengembalikan dengan tiga lembar uang sepuluh ribu rupiah. Teman saya menawarkan senter, tapi saya ragu apakah membeli senter atau tidak. Rencana saya nanti meminjam senter milik teman yang tidak dipakai, saya tinggal membeli baterai. Toh, Kalau saya jadi membeli senter, dikhawatirkan setelah pulang dari mendaki, saya tidak memakai senter lagi. Setelah melihat-lihat ke arah sudut toko, saya tertarik untuk membeli matras. Matras ini biasa digunakan untuk tidur ketika tidur. Bisa dibayangkan tidur diatas ketinggian yang dingin tanpa alas. Harganya tidak terlalu mahal cukup hanya membayar sekitar Rp 20.000,- , karena saya lupa berapa harga pasti matras. Setelah kira-kira sudah cukup memadai untuk naik, Saya kepikiran hal lain yang lebih penting yaitu makanan dan vitamin. Makanan dan vitamin penting untuk dibawa karena ketika kita naik keatas gunung jauh dari warung atau pusat kesehatan. Cara terbaik untuk menjaga vitalitas tubuh adalah dengan cara menjaga dengan mengonsumsi multivitamin.
Pertama saya membeli madu, siapa tahu madu ini berguna untuk menambah  tenaga. Biasanya Saya mengonsumsi madu Sumbawa, tapi pada saat itu, madu Sumbawa sudah habis. Saya mencari ke toko Niaga yang berada di Jalan Selaparang. Selain itu penting juga untuk membeli perlengkapan obat-obatan. Untuk obat saya membeli obat gosok masuk angin. Selanjutnya Saya membeli Tolak Angin untuk mengusir capek-capek.

Hari Kedua (Persiapan Fisik)

Hari kedua merupakan hari persiapan terakhir untuk mempersiapkan mental, fisik, dan perbekalan. Pada hari ini, Saya sengaja tidak melakukan aktivitas yang kiranya akan mengganggu fisik. Pada hari itu saya hanya bermain badminton. Tapi Saya lupa, ketika bermain badminton lawan saya termasuk yang baik di kantor. Alhasil, dengkul saya terasa lemas. Setelah selesai saya sempat kepikiran, apa bisa saya besok berangkat dengan kondisi tubuh yang fit. Setelah bermain badminton biasanya saya melakukan istirahat untuk menenangkan fisik selama dua hari. Selain itu istirahat dimaksudkan untuk menghilangkan keringat yang banyak bercucuran ketika bermain badminton di lapangan. Lapangannya gak jauh, dari kamar sekitar 50 meter saja. Saya sangat bersyukur sekali terdapat fasilitas olahraga di mess. Tidak semua orang mendapat fasilitas tersebut. Ya setidaknya, fasilitas ini telah Saya gunakan untuk melatih fisik agar selalu fit ketika bekerja.

Kaki saya terasa agak lemes dibagian dengkul. Tidak tahu kenapa ini terjadi, padahal tidak biasanya Saya merasakan lemes-lemes di dengkul. Pikirku, apa ini karena Saya selalu memikirkan Ah gak usah saya pikirkan, yang penting maju saja, niat mendaki sudah ada, tinggal saya pasrahkan kepada Tuhan saja.

Hari ketiga (Menuju Lokasi Pendakian)

Hari ketiga penuh dengan hal tidak diduga. Kepala Balai yang tadinya bertanya-tanya tentang Rinjani, akhirnya ikut mengantar kami ke kaki gunung. Dia penasaran ingin ikut menemani sampai Sembalun. Ya Syukurlah ada yang mengantar, karena kalau tidak ada yang mengantar Saya harus naik angkutan dari Mataram menuju Lombok Timur, bisa dibayangkan jauhnya karena biasanya angkutan sering berhenti menaikan dan menurunkan penumpang. Pada Pagi hari sekitar jam 7  saya berangkat menggunakan mobil kepala balai. Mobilnya lumayan bisa buat istirahat, karena setelah masuk, kuping kita tidak terlalu berisik dengan suara mesin mobil, selain itu mobil ini lebih stabil tidak goyang-goyang, ya maklum lah namanya juga mobil pejabat.


Mobil berjalan lewat jalur selatan. Jalur ini merupakan jalur yang biasa digunakan oleh kebanyakan orang untuk menuju Sembalun. Ketika itu jalan raya menuju lokasi dalam keadaan lancar lancar saja. Pak sopir sudah memprediksi bahwa jarak tempuh sekitar 3 jam. Itu dengan asumsi bahwa mobil dalam keadaan bergerak tanpa berhenti. Saya duduk di bangku belakang, awalnya cuma satu orang. Sesampainya di Lombok Timur, mobil menjemput dua orang dari Pringgasela. Akhirnya yang berada di bangku belakang sekarang menjadi tiga orang. Karena mobil setelah sampai di Pringgasela membawa teman naik sebanyak lima orang. Sedangkan tiga orang yang lain menggunakan kendaraan umum. Setelah mobil berjalan, kami melewati beberapa lokasi untuk dilewati. Saya melihat berbagai macam pemandangan yang sedap di Pandang. Ada pasar tempat Orang lombok melakukan transaksi perdagangan, dengan komoditi seperti buah-buahan, sayuran, barang kelontong dan lain sebagainya. Setelah itu kami tentu lewat rumah-rumah orang Lombok yang sebagian besar berukuran lebih kecil dari ukuran rumah yang ada di pedesaan di Jawa. Sawah-sawah juga terlihat hijau, karena ketika itu petani baru saja memulai tanam padi. Biasanya sih selain padi, orang Lombok Timur menanam tembakau. Ya tembakau merupakan tanaman yang memiliki harga bersaing dengan komoditas beras. Katanya sih hanya dari tembakau orang Lombok Timur dapat menjalankan rukun Islam yang ke 5 yaitu haji.

Ketika sudah mulai masuk ke tanjakan, mobil berjalan agak lebih pelan. Selain itu mobil pelan karena jalan mulai mengecil. Saya terus menatap keluar jendela melihat keindahan alam Lombok. Sedikit demi sedikit membawa saya tidak merasa kalau sudah berada di depan pintu masuk Taman Nasional Gunung Rinjani yang berupa gapura. Setelah melewati Gapura sudah tidak ada lagi permukiman penduduk. Hutan kemasyarakatan (HKm) merupakan pemandangan yang pertama kita lihat setelah melewati pintu masuk Taman Nasional Gunung Rinjani. Masyarakat banyak menanam durian di wilayah HKm. Ketika itu pohon durian sedang banyak-banyaknya berbuah. Dari dalam mobil terlihat juga beberapa petani yang membawa durian dari hutan. Rasanya ingin berhenti untuk membeli durian dari petani. Katanya sih rasanya berbeda dengan durian daerah lain. Kalau mau turun sih tidak mungkin, karena akan mengalahkan kepentingan orang lain yang berada didalam mobil. Ah itu hanya keinginan pribadi saya, ya dalam hati saya berkata "ya besok suatu saat nanti saya pasti akan makan durian dari daerah ini".

Mobil terus bergerak menuju Sembalun. Setelah memasuki daerah HKm banyak tikungan. Sopir harus ekstra hati-hati agar semua orang didalam selamat sampai Sembalun. Apalagi ketika sudah memasuki wilayah hutan konservasi, tanjakan dan tikungan semakin tajam. Mobil sempat berhenti di daerah tanjakan dan tikungan karena berpapasan dengan sebuah mobil pick up. Mobil sempat kehilangan keseimbangan arah karena harus berhenti pada daerah tikungan dan tanjakan. Mobil sempat selip dan ketika itu tercium bau ban terbakar karena gesekan ban dengan aspal hingga mengeluarkan asap. Alhamdulilah tidak terjadi apa-apa. Dan mobil pun terus bergerak menuju Sembalun Pass. Ketika kami telah sampai di sembalun, kami berhenti sejenak. Selain untuk menikmati pemandangan yang indah, kami juga menunggu teman kami yang naik kendaraan umum. Setelah menunggu beberapa lama kami membeli kopi di warung-warung yang berada di pinggir jalan. Waktu itu kami memilih kopi ABC yang sudah menjadi legenda di Indonesia. Dan benar setelah kopi habis, rombongan yang kami tunggu akhirnya sampai, dan Kami pun langsung menuju Kantor Taman Nasional Resort Sembalun.

Sesampainya di kantor, Kami bergegas ke dalam kantor untuk mencari informasi tentang Gunung Rinjani. Petugas kantor dengan ramah menjelaskan secara detail tentang pendakian. Pegawai tersebut menggunakan alat peraga imitasi gunung api untuk memudahkan kami memahami seluk beluk menuju puncak gunung. Tak selang berapa lama, beberapa teman keluar untuk mencari tempat kencing. Petugas mengarahkan untuk menggunakan kamar kecil yang berada di belakang. Melihat teman-teman yang kencing, akhirnya Saya ketularan juga untuk menggunakan WC untuk kencing. Tempatnya masih sama seperti yang digunakan teman-teman untuk kencing. Tidak saya sangka sebelumnya bahwa, WC yang dipakai dalam keadaan tidak ada air untuk membilas. Saya melihat air yang berada di penampungan besar, tetapi bingung bagaimana cara mengambilnya untuk dibawa kedalam WC. Akhirnya ember yang tidak terpakai saya gunakan untuk mengangkut air untuk membilas WC supaya nyaman dipakai orang lain. Tidak terasa sekitar satu jam berada di Kantor Taman Nasional Gunung Rinjani Resort Sembalun, Kami memutuskan untuk menuju tempat kami start memulai mendaki. Di iringi oleh cuaca mendung, kami berjalan menggunakan kendaraan sekitar sepuluh menit. Tempatnya sulit dikenali, selain karena tidak ada papan petunjuk, jalan untuk masuk sama seperti gang-gang pada umumnya. Menuurut salah seorang rombongan yang sudah terbiasa mendaki ke Rinjani, jalan tersebut merupakan jalur terdekat untuk menuju puncak. Kalau dari kantor resort menuju kearah Senaru.

Hujan yang kami takutkan sebelumnya terjadi secara tiba-tiba. Selepas keluar dari mobil hujan begitu deras. Kami berteduh disebuah warung milik warga Sembalun. Pada waktu itu sekitar pukul dua belas siang. Bapak Bos yang menemani kami ikut berteduh, padahal kalau mau Beliau bisa saja langsung pergi menggunakan mobil untuk pergi ke Mataram. Kesempatan itu kami gunakan untuk mengobrol, sampai sekitar satu jam ternyata hujan belum reda, dan malah semakin deras. Karena takut hari akan semakin gelap, Pak Bos memutuskan untuk pergi terlebih dahulu ke Mataram, walaupun hujan deras terus jatuh dari langit.

Setelah melihat-lihat hujan tidak berhenti, hati terasa gundah sembari berdoa dalam hati agar hujan segera berhenti dan jalan-jalan agar tidak lama tergenang air. Kenyataannya, hujan malah bertambah, suasana bertambah gelap hingga beberapa kali petir berdentung kencang. Tekad kami sudah bulat, tidak ada yang dapat mencegah raga kami untuk segera sampai Puncak Rinjani. Hujan bukan halangan besar, justru sebagai penguji mental agar ketika sampai puncak, mental teruji seperti pisau yang semakin tajam jika diasah.

Waktu terus berjalan, hingga sore hari sekitar pukul lima sore, hujan gerimis masih turun dari langit ke bumi. Ketimbang harus berdiam diri, alangkah baiknya jika kami berjalan sedikit-demi sedikit menembus rintikan air hujan. Jas hujan telah kami persiapkan, ketika itu saya mendapat jas hujan yang berbahan plastik tipis. Jas tersebut merupakan pemberian dari turis mancanegara yang ketika kami menunggu hujan reda, turis tersebut baru turun dari puncak.

Kaki menginjak tanah yang masih tergenang air, di sebagian sisi air yang turun mengalir ke daerah yang lebih rendah. Hidung kami mencium kotoran sapi yang di ternak warga sekitar. Ada juga kotoran sapi yang mengambang mengikuti aliran air. Tidak tahu kenapa ketika awal-awal jalan, nafas terasa berat dan dada terasa panas. Rasa pesimis muncul ketika kami berjalan dan bertemu dengan lembah sungai. Air sungai sedikit mengering, namun tanah masih terasa lengket. Setelah itu menanjak dengan ketinggian yang lumayan berat untuk dilalui, maka Kami bersiap untuk istirahat sebelum masuk hutan. Ketika kami sudah keluar dari lembah sungai, kami duduk-duduk disela bebatuan yang berukuran sedang. Sembari kami menunggu teman yang pelan jalannya, mata kami melihat kearah tempat dimana kami berteduh ketika hujan tadi siang. Ternyata Kami sudah berada pada ketinggian sekitar 200 meter dari tempat  tadi. Ya semua terlihat jelas, mulai dari rumah penduduk, kebun, sawah, dan kantor perusahaan Agro Sampoerna yang terlihat luas. Tidak terasa kaki sudah mulai menginjakan kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani. Istirahat tadi sebagai persiapan sebelum kami memasuki hutan pertama. Ketika istirahat puncak Gunung Rinjani terlihat jelas dengan awan di sekelilingnya. Rupanya hujan sudah mulai reda, dan kini tinggal tanah menjadi lembab dan licin. Setelah kami merasa sudah siap, perjalanan pun dimulai lagi.

Kali ini saya minta untuk berada di barisan depan, dengan alasan agar tidak ketinggalan rombongan. Dan anggota rombongan menyetujui. Saya tidak ingin tertinggal, sebab dari lima orang kawan yang ikut, hanya saya yang tidak memiliki pengalaman naik Rinjani. Perjalanan memasuki wilayah hutan sekitar setengah jam, kanan kiri terlihat pohon yang lebat. Suasana terlihat gelap, selain karena sudah sore yaitu sekitar jam lima sore, dan mendung menghalangi sinar matahari masuk ke bumi, selain itu pepohonan yang lebat mungkin juga akan menjadi penghalang jika tidak ada mendung dan hujan. Waktu keluar dari hutan suasana sudah mulai gelap. Sejauh mata memandang sudah tidak adalah kehidupan manusia, Pemandangan sabana dan pohonan mendominasi penglihatan ketika itu.
Kami pada hari ini berusaha untuk menginap di pos 3. Untuk itu kami tidak memikirkan untuk menginap baik itu di pos satu atau pos dua, sehingga jalan kami agak tergesa-gesa. Saya membutuhkan tenaga besar untuk mencapai.


Lihat juga foto ketika mendaki. Klik disini



Satu grup pendakian melakukan foto dengan latar belakang awan. Di Taman Nasional Gunung Rinjani terdapat banyak titik untuk melakukan foto dengan background pemandangan yang luar biasa.


Padang rumput yang berada di lereng Gunung Rinjani menjadi pilihan utama untuk mengambil gambar. Padang rumput yang luas seperti pemandangan di negara-negara Eropa.


Untuk naik Gunung Rinjani agar jangan terlalu memaksakan berjalan. Lihat kondisi fisik, jika memang perlu istirahat sebaiknya untuk duduk-duduk sembari menikmati padang rumput yang hijau.

Senin, 22 Juni 2015

Menikmati Kopi di Aik Nyet, Pulau Lombok

Suara deburan dari air terjun jelas terdengar. Burung-burung berkicau seakan ingin kembali ke sarang. Angin sepoi memberi rasa dingin di tangan. Daun yang kadang terlihat berguguran. "Rupanya hari sudah mulai sore, jam menjunjuk angka empat" kata salah seorang yang ikut ke Kawasan Wisata Aik Nyet di Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Waktu itu Kami bertiga jalan-jalan mencari suasana baru, kebetulan tempatnya tidak terlalu jauh dari kantor.

"Penake ki ngopi ndisik apa piye" kata Yumantoko. "Yo terserah" Kata Kresno Agus Hendarto (sambil menyahut) dan kemudian diamini oleh Rubangi Al Hasan agar rombongan untuk segera mencari warung di sekitar lokasi mencari kopi. Kami memilih tempat yang tidak terlalu jauh dari tempat parkir, dan begitu kami masuk ke dalam kawasan tiba-tiba ada perempuan yang berusia sekitar 25 Tahun menawarkan minuman kopi. Tanpa pertimbangan yang matang, kami menerima tawaran perempuan itu untuk menunggunya selesai membuat kopi. "Kopi dua ya mba" sahut Yumantoko, "lah koe ora ngopi po" sahut Kresno Agus Hendarto "  aku ora ngumbe kopi, aku njumut Pocari Sweat bae" jawab Yumantoko. Kemudian sambil menunggu kopi jadi, kami ngobrol ngalor-ngidul kami kurang lebih menghabiskan waktu sekitar satu jam sambil minum menikmati suasana sore hari.

"Kalau orang kesini ramainya hari minggu mas" jawab perempuan yang menjadi penjual minuman. "Disini kalau minggu, pedagang juga lebih banyak ketimbang hari bias" ucap lagi lagi perempuan itu. 

Tempat yang Kami singgahi ini menawarkan obyek wisata berupa mata air, sungai, serta suasana hutan. Mata air mengalir deras hingga menjadi aliran sungai dengan arus yang sedang. Pepohonan yang mendominasi di tempat ini adalah dari jenis mahoni, dengan tinggi rata-rata sekitar 30 meter, sehingga daun nya menghalangi cahaya matahari sampai ke tanah.

Kemudian Kami di tawari sate "bulayak" yaitu sate ayam atau sapi dimana lontong yang menemani makan dibuat dari daun aren. Biasanya di beri sambal yang terbuat dari kacang dan rasanya pedas. Akan tetapi tawaran itu kami tolak karena hari sudah mulai sore, dan kami pun bergegas menuju tempat parkir, untuk pulang.

Pohon mahoni mendominasi tutupan dikawasan hutan Aiknyet, Lombok

Pada hari minggu tempat ini menjadi favorit bagi masyarakat sekitar untuk piknik