Rabu, 03 Maret 2010

Perjalanan Wisata ke Yogyakarta (terinspirasi oleh Astaga.com lifestyle on the net)



Dua hari setelah aku sembuh dari sakit, aku mengajak Abah, dan Ummi, untuk jalan-jalan berkeliling Jogja.  Terinspirasi oleh artikel yang ada di astaga.com akhirnya saya berpikir untuk wisata di Jogja. Di kota  budaya ini (Yogyakarta) terdapat banyak tempat wisata menarik yang sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja. Mumpung semua keluarga sedang berkumpul jadi satu, aku ingin mengajak mereka piknik. Ketika itu semua anggota keluarga ikut menyertaiku. Setelah itu, kami sekeluarga kembali tak mengenal apa itu piknik. Aku menawarkan pada mereka tempat-tempat wisata yang akan dikunjungi. Aku menyebutkan satu per satu tempat wisata yang menarik, dari mulai tempattempat yang paling terkenal seperti Candi Prambanan, Candi Borobudur(Magelang-Jateng), Malioboro, Pantai Parangtritis, Keraton, hingga tempat-tempat lain yang sebenarnya menarik tapi tidak begitu dikenal secara luas oleh orang di luar Jogja. Sebut saja Kampung Kauman, Kotabaru, Kotagede, Dusun Mlangi, Pecinan, Prawirotaman, Tamansari dan sebagainya. Namun, karena waktu yang tersedia untuk jalan-jalan terlalu terbatas lantaran Abah, Ummi dan Rahma berencana akan pulang besok pagi, akhirnya kami lebih memilih tempat yang paling mudah dijangkau serta yang letaknya saling berdekatan. Dan kamipun hanya memilih untuk pergi ke Malioboro, Kampung Kauman dan Keraton Yogyakarta. Pertama aku mengajak keluargaku ke Malioboro. Kami menaiki bus Trans Jogja untuk sampai ke tempat tujuan. Mereka sangat menikmati perjalanan yang bagi mereka terbilang baru, kecuali adikku Jamal. Rahma sampai berceloteh:

“Wah! Seandainya di Desa kita ada bus seperti ini. Ada AC-nya, bersih,

pelayannya ramah. Betapa senangnya!”

Setibanya di jalan Malioboro, kami langsung berjalan kaki menyusuri sepanjang bahu jalan berkoridor. Tempat ini penuh dengan para pedagang kaki lima yang menggelar barang dagangannya. Mulai dari produk kerajinan lokal seperti batik, hiasan rotan, wayang kulit, kerajinan bambu, blangkon, barang-barang yang

terbuat dari perak, hingga pedagang yang menjual beraneka ragam pernak-pernik. Abah membeli batik dan blangkon, dan Ummi membeli sebuah lampu hias yang terbuat dari bambu. Sementara adikku Rahma membeli sebuah pernak-pernik. Jamal membeli sepasang sandal kulit. Aku sendiri membeli baju koko. Kami sangat

menikmati perjalanan. Meskipun aku mengeluarkan banyak uang, tapi aku masih memiliki simpanan yang cukup. Bagiku membahagiakan keluarga lebih berarti dari hanya sekadar mempertimbangkan masalah duit. Lagipula kami hampir tidak pernah menikmati seperti apa rasanya berwisata. Di penghujung jalan Malioboro sebelah selatan, kami mampir sejenak di Benteng Vredeburg yang berhadapan dengan Gedung Agung. Adikku Rahma tampak sangat penasaran dengan apa yang dilihatnya, karena selama ini ia hanya mengetahui Benteng ini dari pelajaran sejarah di sekolahnya. Rahma sangat gembira ketika melihat langsung dengan mata kepalanya. Dengan semangat ia bercerita padaku bahwa Benteng Vredeburg dibangun pada tahun 1765 dan dulunya merupakan basis perlindungan Belanda dari kemungkinan serangan pasukan Keraton. Aku pun tersenyum, aku bangga ternyata adikku sangat pandai dalam pelajaran sejarah meskipun ia baru duduk di bangku kelas 2 SMP. Lalu aku memberitahunya pula bahwa Gedung Agung yang terletak di depannya pernah

menjadi Istana Negara pada masa presiden Soekarno, ketika Ibukota Negara dipindahkan ke Yogyakarta. Rahma tersenyum ceria dan berkata kalau ia akan menceritakan pengalamannya saat ini kepada teman-teman sekolahnya di Desa. Setelah puas menapaki setiap sudut arcade jalan Malioboro dan melihat-lihat Benteng Vredeburg, kami terus berjalan kaki ke arah selatan. Sebelum menuju ke Keraton, kami berbelok ke arah kanan melewati Jalan K.H. Ahmad Dahlan, dan masuk ke sebuah gapura yang berada di sebelah kiri jalan. Ya, kali ini aku berniat mengajak keluarga ke Kampung Kauman. Bagi para pendatang yang sudah lama tinggal di Jogja, hampir dipastikan mereka mengetahui keberadaan Kampung ini. Orang-orang Jogja menganggap Kampung ini sebagai Kampung santri, karena memiliki peran besar dalam gerakan keagamaan Islam. Setahuku, pada masa kerajaan dulu, Kampung ini merupakan tempat bagi 9 ketib atau penghulu yang

ditugaskan Keraton untuk membawahi urusan agama. Sebelum masuk ke kampung, tampak didepan mata kami sebuah Gapura yang bagian atasnya berbentuk lengkung. Setahuku bentuk lengkung itu merupakan salah satu ciri bangunan Islam yang banyak mendapat pengaruh dari Timur Tengah. Di bagian atas gapura juga terdapat gambar berbentuk lingkaran berwarna hijau dengan matahari bersinar 12 yang berwarna kuning di dalamnya. Gambaran tersebut sampai saat ini masih dipakai Muhammadyah sebagai lambang organisasi sekaligus institusi lain yang bernaung di dalamnya. Kami menyusuri gang-gang kampung Kauman dengan berjalan kaki. Selain ada tanda dilarang memakai kendaraan yang dipasang di dekat gapura, jalan di

Kauman memang sengaja dirancang agar menyulitkan kendaraan masuk. Perancangan itu bermaksud agar kebisingan tidak mengganggu kesibukan para santri belajar dan sebagai wujud filsafat kesetaraan di Kauman dimana setiap orang yang masuk diwajibkan menangggalkan status sosialnya dengan berjalan kaki. Ya, sebuah peraturan sosial yang unik. Di kanan kiri gang, kami melihat ragam bangunan dengan berbagai desain

rancang bangunnya. Sebuah rumah berwarna kuning tampak tak jauh dari gapura. Rumah tersebut memiliki pintu, jendela, dan ruangan besar, serta ventilasi yang berhias kaca warna yang menunjukkan pengaruh arsitektur Eropa. Lalu kami berjalan ke ujung gang dan berbelok ke kanan, disini kami menjumpai sebuah rumah berwarna putih dengan kusen jendela dan pintu berwarna coklat. Daun jendela yang bagian atasnya berbentuk lengkung menunjukkan kuatnya pengaruh Timur Tengah. Tepat di depan rumah itu, terdapat rumah berwarna biru dengan desain atap mirip rumah Kalang di Kotagede. Di ujung gang sebelum berbelok, kami menemukan sebuah monumen yang dikelilingi taman kecil. Di monumen itu terdapat tulisan "Syuhada bin Fisabillillah", tahun 1945 - 1948, dan daftar nama yang memuat 25 orang. Monumen itu didirikan oleh warga dengan tujuan untuk memperingati jasa warga Kauman yang meninggal ketika ikut berperang memperjuangkan kemerdekaan. Menurut mereka, katasyuhada” menunjukkan bahwa warga Kauman yang tinggal kini menganggap para pejuang tersebut mati syahid. Selain bisa melihat nama-nama pejuang kemerdekaan yang meninggal pada masa perang, aku sengaja mengajak keluarga untuk menemui salah satu pejuang yang kini masih hidup. Beliau adalah Haji Dauzan Farook. Kebetulan dua tahun yang lalu aku pernah menemuinya dan aku banyak bertanya tentang sejarah Kampung Kauman padanya. Menurut ceritanya, saat perang kemerdekaan, ia ikut bergerilya bersama Panglima Besar Jendral Sudirman. Ia juga masih menyimpan foto bersama sang panglima besar dan berita-berita dari koran saat itu. Haji Dauzan menceritakan pada kami bahwa Panglima Soedirman bukan saja dikenal sebagai seorang pejuang, melainkan juga seorang da’i. Tidak diragukan lagi bahwa panglima besar itu adalah seorang pejuang yang sering mencontoh taktik perjuangan Rosulullah. Perang gerilya yang dilakukannya juga tak luput dari strategi perang yang pernah dilakukan oleh Rosulullah SAW. Ketika beliau sedang berada di desa Karangnongko, setelah sebelumnya menetap di desa Sukarame, Panglima Soedirman yang memiliki naluri seorang pejuang menganggap desa tersebut tidak aman bagi keselamatan pasukannya. Maka beliau pun mengambil keputusan untuk meninggalkan desa dengan mamakai taktik penyamaran, sebagaimana Rosulullah juga pernah melakukannya ketika beliau melakukan hijrah dari Makkah ke Madinah. Setelah shalat shubuh, Pak Dirman yang memiliki nama samaran Pak De dengan beberapa pengawalnya pergi menuju hutan. Sementara mantel yang biasa dipakai olehnya ditinggal dalam rumah di desa itu, termasuk beberapa anggota rombongan yang terdiri dari Suparjo Rustam dan Heru Kesser. Pagi harinya Heru Kesser segera mengenakan mantel tersebut dan bersama Suparjo Rustam berjalan menuju arah selatan. Sampai tiba di sebuah rumah barulah mantel tersebut dilepas dan mereka berdua bersama beberapa orang secara hati-hati pergi menyusul Jendral Soedirman. Dan sore harinya pasukan Belanda dengan pesawat pemburunya memborbardir rumah yang sempat disinggahi Heru Kesser dan Suparjo Rustam. Hal ini membuktikan betapa Panglima Soedirman sangat menguasai taktik dan sejarah perjuangan dalam Islam. Yang aku heran adalah, meskipun Haji Dauzan sudah lanjut usia, dengan semangat beliau masih berjuang sampai saat ini. Ia mendirikan sebuah perpustakaan yang dikelola secara mandiri. Perpustakaan tersebut bernama Mabulir. Setiap hari ia berkeliling dengan sepeda untuk menawarkan buku kepada masyarakat. Semua bukunya dipinjamkan hanya dengan satu syarat: orang yang dipinjami mesti mengumpulkan setidaknya 5 orang. Menurutnya, itu merupakan suatu bentuk kepedulian pada orang lain dan ajakan agar ilmu tidak dipendam untuk diri sendiri. Sungguh pengabdian yang sudah sangat jarang di negeri ini! Di Kampung Kauman juga terdapat sebuah sekolah lanjutan yang telah berdiri sejak 1919. Pada awal berdirinya sekolah itu bernama Hooge School Muhammadyah, lalu diganti menjadi Kweek School pada tahun 1923. Sekolah yang juga didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan itu pada tahun 1930 dipecah menjadi dua,

untuk laki-laki dan perempuan. Sekolah untuk laki-laki dinamai Mu’alimin, sedangkan untuk Perempuan dinamai Mu’alimat. Selanjutnya, istri KH Ahmad Dahlan juga mendirikan Yayasan Aisyah untuk kaum perempuan. Bangunan paling dikenal yang termasuk dalam kompleks Kampung Kauman adalah Masjid Agung. Masjid yang menjadi masjid pusat di wilayah Kesultanan itu didirikan sejak 16 tahun setelah berdirinya Kraton Yogyakarta. Arsitektur masjid yang bercorak khas Jawa tersebut dirancang oleh Tumenggung Wiryakusuma. Bangunan masjid terdiri atas inti, serambi, dan halaman yang keseluruhannya seluas 13.000 meter persegi. Bangunan serambi dibedakan dari bangunan inti. Tiang-tiang penyangga masjid misalnya. Pada bangunan inti berbentuk bulat polos sebanyak 36 sedangkan pada bagian serambi tiangnya memiliki umpak batu bermotif awan sebanyak 24 buah. Dari Kampung Kauman kami langsung menuju Keraton Yogyakarta. Wilayah Keraton sangatlah luas. Ia memanjang 5 km ke arah selatan hingga

Krapyak, dan 2 km ke utara yang berakhir di Tugu. Pemandu wisata Keraton menjelaskan bahwa pada garis tersebut terdapat garis linier dualisme terbalik, sehingga bisa dibaca secara simbolik filosofis. Dari arah selatan ke utara, dilambangkan sebagai lahirnya manusia dari tempat tinggi ke alam fana, dan sebaliknya sebagai proses kembalinya manusia ke sisi Dumadi (Tuhan dalam pandangan Jawa). Sedangkan Keraton sebagai jasmani dengan raja sebagai lambang jiwa sejati yang hadir ke dalam badan jasmani. Keraton menuju Tugu juga diartikan sebagai jalan hidup yang penuh godaan. Pasar Beringharjo melambangkan godaan wanita. Sedangkan godaan akan kekuasaan dilambangkan lewat Gedung Kepatihan. Keduanya terletak di sebelah kanan. Jalan lurus itu sendiri sebagai lambang manusia yang dekat dengan Pencipta (Sangkan Paraning Dumadi). Secara sederhana, Tugu perlambangan Lingga (laki-laki) dan Krapyak sebagai Yoni (perempuan). Dan Keraton sebagai jasmani yang berasal dari keduanya. Aku harus mengakui bahwa Keraton Yogyakarta memang mengandung simbol-simbol yang terpengaruh oleh khasanah budaya Hindu Budha. Namun, aku

pernah juga membaca sebuah buku, bahwa pada masa lalu Kerajaan Mataram Islam juga memiliki korelasi yang sangat erat dengan kekhilafahan Islam di Timur Tengah. Istilah “Sultan” sendiri merupakan gelar yang mengambil kata dari bahasa Arab. Pada tahun 1641 Masehi, Pangeran Rangsang sebagai penguasa Mataram pada waktu itu mengrim delegasi ke Makkah, dan dikemudian hari beliau diberikan gelar sultan oleh Penguasa Haramain di Makkah. Sejak saat itu beliau lebih dikenal dengan Sultan Agung. Aku fikir, jika sejarah masuknya Islam ke tanah Jawa lebih banyak digali lagi, maka akan ada fakta yang lebih menarik lagi.

Kami melewati sembilan buah pintu yang ada didalam keraton. Pintu-pintu itu dinamakan Regol. Dari utara terdapat gerbang, pangurukan, tarub agung, brajanala, srimanganti, kemagangan, gadhung mlati, kemandhungan dan gading. Hampir tak ada ruang dalam keraton yang terlewat dari langkah kaki kami. Tiba-tiba muncul dihadapanku seorang perempuan yang sepertinya aku pernah mengenalnya. Ia juga melihatku. Dia sepertinya sedang melakukan sesuatu dengan laptop yang dibawanya. Setelah aku Tanya ternyata dia sedang membuka astaga.com. Dan setelah aku Tanya-tanya lagi ternyata dia sedang membuka portal mengenai kuliner (Astaga.com lifestyle on the net), mungkin  karena dia senang untuk membukasitus kuliner kali... Padahal sebelumnya aku ingin memintanya untuk membuka berita tentang  Bimbim yang menjual sandal jepitnya (Astaga.com lifestyle on the net). Ya udahlah hari semakin sore dan sudah saatnya untuk pulang. Dan rasanya ingin segera untuk membuka astaga.com sesampainya dirumah.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

No Porn, Racism, Sadism

Makan Bersama di Lombok Namanya Begibung

     Halo, teman-teman! Kali ini saya mau berbagi pengalaman saya yang pernah mendapat undangan makan dari teman dalam rangka maulid nabi. A...

Populer, Sist/Broo