Jumat, 03 Februari 2012

Dua Jaman Orde Baru VS Orde Reformasi Dari Cerita Orang-Orang Disekitar

Tulisan ini saya tulis karena Saya sering mendengar dari orang-orang tua disekitar Saya yang mengatakan akan keindahan cerita dimasa lalu dimana dimasa lalu keadaan masyarakat begitu tenang dan toleran dengan keadaan.

Saya sering mendengarkan cerita kalau pada jaman orde baru keamanan di masyarakat sangat baik berbeda dengan pemerintahan sekarang dimana dimana-mana sering terjadi konflik horisontal dan konflik vertikal. Hal tersebut sering diungkapkan oleh para orang yang usianya telah lewat   jaman orde lama, orde baru dan sekarang orde reformasi.

Pada jaman orde lama dan orde baru kondisi keamanan masyarakat mampu dikendalikan. Setiap ada kegiatan yang mencurigakan maka akan ada intel ditingkat desa (babinsa) yang segera melaporkan ke pihak keamanan diatasnya yakni petugas yang ada di kecamatan. Dengan sistem keamanan tang tersusun rapi terutama dalam hal pelaporan maka informasi sekecil apapun akan mendapatkan reaksi dari pihak yang berwenang. Pada jaman orde baru banyak terjadi penangkapan kepada orang-orang tertentu berdasarkan laporan, walaupun laporan tidak jelas pun akan diapresiasi untuk melegalkan sebuah tindakan fisik baik kekerasan maupun penangkapan. Banyak orang pada  jaman orde baru yang ditangkap kemudian dihajar atau bahkan banyak ditemukan mayat di pasar, tepi jalan atau tempat keramaian lainnya. Pembunuhan merupakan hal yang biasa untuk melegalkan sebuah aksi pengamanan. Tujuan dari pembuangan mayat-mayat dari orang-orang yang diduga pengacau keamanan yaitu tidak lain hanya ingin memberikan tanda kepada masyarakat luas bahwa inilah akibat dari seseorang yang tidak patuh terhadap suatu hukum negara. Orang dahulu begitu takut untuk melihat mayat atau menjadi mayat, mereka masih berpikir akibat jika nanti dirinya  terjadi apa-apa.
Soeharto, diambil dari Facebook

Operasi intelijen pada jaman dahulu terkenal dengan istilah petrus (penembak misterius). Biasanya korban dari petrus adalah preman-preman, yang penguasa pada jaman tersebut menyebutnya dengan istilah sampah masyarakat. Penculikan merupakan hal yang menjadi lumrah dilakukan dan kemudian pagi harinya korban penculikan tersebut ditemukan dalam keadaan menjadi mayat yang tergeletak ditempat-tempat umum yang mudah dijangkau oleh masyarakat.

Diakui bahwa keamanan pada saat itu terjaga dalam kondisi baik. Jarang sekali ada pergerakan-pergerakan dalam masyarakat yang mengancam keamanan. Masyarakat biasa melakukan aktivitas untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari tanpa ada rasa takut akibat adanya ancaman keamanan. Masyarakat menjadi tenang seolah seperti sebuah negeri dongeng yang tenang dan tenteram. Tetapi menurut para penganut aliran HAM (Hak Asasi Manusia) keadaan semacam itu banyak menimbulkan keadaan yang justru mengarah kepada indikasi pelanggaran HAM. Misalnya penangkapan yang dilakukan oleh pihak penguasa kepada masyarakat tanpa bukti-bukti yang kuat dan tanpa proses hukum terlebih dahulu namun tiba-tiba orang yang ditangkap dan mati.

Sedangkan pada era sekarang yang terkenal dengan era reformasi memiliki nilai yang berbeda. Kebebasan menjadi slogan andalan bagi pengelola bangsa ini. Masyarakat diberikan kebebasan oleh penguasa untuk bertindak sesuai dengan kemampuan dan keinginannya. Ide dan perbuatan dipergunakan oleh masyarakat untuk ikut berpartisipasi mengisi buku harian negara ini dengan tinta yang akan menjadikan huruf demi huruf, kata demi kata dan kalimat demi kalimat apakah itu sesuai dengan judul halaman muka buku atau malah justru tulisan tersebut keluar konteks dari judul buku tersebut. Ada masyarakat yang mampu untuk mengapresiasikan dirinya sendiri, mengolah bakat dan kemampuannya untuk dirinya dan untuk orang lain. Ada juga masyarakat yang tidak pandai mengelola kebebasan yang telah diberikan oleh penguasa. Akibatnya masyarakat era reformasi merupakan masyarakat yang terdiri dari tiga kubu yakni kanan, kiri dan netral.

Pengklasifikasian tersebut sudah lumrah terutama dalam sebuah negara yang tidak bisa satu paham. Lihat Negara Korea Utara dimana kita sulit untuk bisa melihat pertentangan yang terjadi di kalangan internal pengelola negara tersebut. Apa yang diputuskan oleh pemimpin negara Korut tersebut jarang ada yang menentang, semua berjalan pada satu jalan yang telah dibuat oleh pemerintahan setempat. Sehingga presiden disana merupakan tokoh kunci dalam sebuah pengambil keputusan. Bayangkan jika keputusan yang harus ditetapkan menyangkut banyak hal. Untuk memutuskan sesuatu mungkin akan memerlukan waktu yang banyak, padahal Korut memiliki jutaan penduduk. Akan sangat menyita waktu jika segala sesuatu hanya diputuskan oleh satu orang saja. Tetapi keuntungannya adalah negara dalam keadaan yang stabil jauh dari rong-rongan politik. Nampak oleh mata dari luar seolah tidak terjadi apa-apa, namun orang yang tidak suka dengan pemerintah juga semakin banyak karena banyak kepentingan orang lain yang dipaksakan. Ibaratnya seperti api yang membakar tumpukan alang-alang, maka dari luar akan nampak kehitaman, tenang, tetapi justru sebenarnya adalah didalam sekam tersebut terjadi bara api yang luar biasa yang bisa bertahan berhari-hari.

Keadaan untuk saat ini di Indonesia hampir setiap hari terjadi konflik yang dengan tegas dimunculkan oleh media ke permuakaan. Mulai dari ujung provinsi paling barat sampai dengan provinsi paling timur Indonesia dinamika masyarakat Indonesia menghiasi media pemberitaan nusantara.

Ini juga menurut orang tua, sekarang jamannya serba bebas. Anak muda tidak hormat lagi kepada orang tua, anak buah tidak loyal lagi kepada pimpinan, murid selalu membangkang kepada gurunya, istri/suami yang menghianati pasangannya, petani yang mengolok-olok pemerintahan, buruh yang berani memberontak kepada pengusaha, perampok yang tega menembak mati korbannya, serta kelompok teroris yang berani memperlihatkan bom mainannya kepada aparat pemerintah dan keamanan, dan masih banyak lagi kejadian-kejadian yang lainnya.

Bagi sebagian golongan orang tua, hal ini disebut dengan "jaman edan", yaitu suatu jaman dimana segalanya serba terbalik dari tata nilai jaman dahulu misalnya budaya narkoba dan budaya seks bebas serta kegiatan pornografi dan pornoaksi. Kejahatan menyebar dimana-mana dan dilakukan secara terang-terangan pada waktu siang bolong. Moral hazard terjadi dimana-mana, baik oleh aparat pemerintah maupun dari kalangan rakyat biasa. Penegakan hukum hanya tergantung pada kekuatan kekuasaan, semakin berkuasa maka akan semakin kebal terhadap hadangan hukum, tetapi untuk rakyat jelata hukum bergitu menjerat.

Masyarakat sekarang masih belajar mengenai makna dari kata kebebasan. Karena pada jaman sekarang ini banyak orang yang salah mengartikan kebebasan. Kebebasan dianggap suatu hal yang tidak memiliki tanggung jawab. Kebebasan diartikan sebagai suatu hal yang digunakan untuk memperkuat posisi pribadi maupun golongan. Masih banyak orang yang tidak memiliki jiwa keberagaman. Banyak orang yang belum sadar kalau pada saat ini mereka hidup dalam suatu lingkungan dengan tingkat keberagaman yang tinggi. Sehingga berpikirnya masih komunal tidak universal, mementingkan diri dan golongan, berdampak jangka pendek untuk memperkuat posisi tidak bisa memahami keadaan, kaku dan cenderung mendupak orang lain.
Merenung memilih nasib

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

No Porn, Racism, Sadism